Minggu, 26 Juli 2015

MAKALAH NUTRISI PADA KEHAMILAN - KOAS OBGYN

BAB 1
PENDAHULUAN
  
1.1 Latar Belakang
            Kehamilan adalah saat ketika kebutuhan gizi menjadi lebih tinggi, dan memenuhi kebutuhan tersebut memiliki efek positif pada kesehatan sang ibu dan bayi yang belum lahir. Dampak gizi terhadap janin yang sedang berkembang selama kehamilan berdampak untuk seumur hidupnya, dan tentu kita ingin melihat anak-anak memiliki warisan kesehatan yang baik untuk masa depan. Kami juga ingin melihat wanita menikmati kehamilan yang sehat tanpa efek negatif dari gizi buruk pada kesehatan mereka, dan dalam kemungkinan status gizi terbaik untuk mendukung pemberian ASI. 1
Nutrisi layak mendapatkan perhatian khusus selama kehamilan dan menyusui karena kebutuhan nutrisi yang tinggi dan peran penting gizi bagi janin dan bayi. Adaptasi fisiologis selama kehamilan sebagian melindungi janin dari kekurangan diet ibu, tetapi meskipun demikian kekurangan ini dapat memiliki konsekuensi bagi kesehatan dan perkembangan janin dan bayi jangka panjang.1
Nutrisi mungkin merupakan faktor non-genetik yang paling berpengaruh dalam perkembangan janin. Komposisi tubuh ibu, cadangan nutrisi, diet, dan kemampuan untuk memberikan nutrisi melalui plasenta menentukan ketersediaan nutrisi bagi janin. Nutrisi prenatal mempengaruhi pertumbuhan janin, perkembangan normal fungsi fisiologis dan berat badan kehamilan. Peningkatan berat badan kehamilan adalah perkembangan yang kompleks yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Fisiologi ibu dan metabolisme serta metabolisme plasenta juga mempengaruhi kenaikan berat badan kehamilan. Perubahan homeostasis ibu dapat mengubah struktur dan fungsi plasenta, mempengaruhi pertumbuhan janin.2
Selama kehamilan, kenaikan berat badan ibu mempengaruhi pertumbuhan janin. Ukuran neonatus kecil saat lahir disebabkan pertumbuhan yang buruk dan pendeknya usia kehamilan, dan hasil yang paling tidak baik terjadi pada bayi yang paling matang. Rendahnya berat badan kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur, sedangkan rendahnya berat badan ibu pada trimester kedua dan ketiga terbukti berhubungan dengan risiko kelahiran prematur spontan.2
Dua faktor yang berhubungan dengan gizi ibu menunjukkan hubungan positif dengan berat badan bayi lahir: indeks massa tubuh ibu sebelum hamil (BMI, yang didefinisikan sebagai berat badan / tinggi) dan berat badan selama kehamilan. Wanita BMI rendah sebelum hamil berada pada peningkatan risiko untuk kelahiran prematur dan retardasi pertumbuhan intrauterin (IUGR). Namun, wanita dengan BMI rendah sebelum hamil memiliki risiko kelahiran prematur hanya jika mereka gagal untuk mendapatkan berat badan yang memadai. 2
Peningkatan berat badan yang sesuai usia kehamilan dapat membantu meningkatkan kesehatan ibu dan janin. Peningkatan berat badan ibu yang tidak sesuai telah dikaitkan dengan berat badan lahir rendah (<2500 g) sedangkan peningkatan berat badan berlebih menyebabkan berat lahir yang tinggi (> 4000 g) dan obesitas setelah melahirkan. Data dari Canadian Maternity Experiences Survey menunjukkan bahwa wanita hamil yang mendapatkan berat badan kurang dari yang direkomendasikan cenderung melahirkan bayi dengan berat kurang dari 2500 gr.2
Pasokan nutrisi yang cukup mungkin adalah faktor lingkungan paling penting yang mempengaruhi hasil kehamilan. Wanita dengan kehamilan usia dini atau berjarak dekat berada pada peningkatan risiko memasuki kekurangan cadangan nutrisi cadangan. Deplesi nutrisi ibu dapat berkontribusi pada peningkatan insiden kelahiran prematur dan retardasi pertumbuhan janin serta peningkatan risiko kematian ibu dan morbiditas. 3
Nutrisi memainkan peran utama dalam kesehatan ibu dan anak. Status gizi ibu yang buruk telah terkait dengan hasil kelahiran yang merugikan. Namun, hubungan antara gizi ibu dan hasil kelahiran yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor biologis, sosial ekonomi, dan faktor demografi, yang bervariasi dalam populasi yang berbeda. Memahami hubungan antara gizi dan kelahiran hasil ibu dapat memberikan dasar untuk mengembangkan intervensi gizi yang akan meningkatkan hasil kelahiran dan kualitas jangka panjang hidup dan mengurangi angka kematian, angka kesakitan, dan biaya perawatan kesehatan.4

1.2.  Rumusan Masalah
 Bagaimanakah tinjauan teoritis tentang nutrisi pada kehamilan serta hal-hal apa saja yang penting sebagai edukasi pada ibu hamil sehingga dapat menjaga kecukupan gizi dalam kehamilannya?

1.3. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini ialah:
1.    Memahami tinjauan ilmu teoritis mengenai nutrisi pada kehamilan.
2.    Mengintegrasikan ilmu kedokteran yang telah didapat untuk mengedukasi ibu hamil tentang kebutuhan nutrisinya selama hamil.
3.    Memenuhi persyaratan dalam pemenuhan kegiatan selama kepaniteraan klinik senior di Departemen Osbtetri di RSUD. Dr. Pirngadi Medan

1.4. Manfaat Penulisan
Beberapa manfaat yang didapat dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk lebih memahami dan memperdalam secara teoritis tentang edukasi mengenai nutrisi pada kehamilan
2.      Sebagai bahan informasi dan pengetahuan bagi pembaca mengenai nutrisi pada kehamilan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perubahan Fisiologi pada Ibu Hamil
       Pertumbuhan sel yang cepat terjadi sejak dua minggu setelah konsepsi dan mulai terbentuk plasenta. Minggu kedua hingga ke delapan terjadi pembentukan organ-organ seperti jantung, paru-paru, ginjal, hati dan tulang. Volume darah pun meningkat drastis, menyebabkan terjadinya pengenceran darah, sehingga kadar hemoglobin (Hb), albumin, dan zat lain menurun.5
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu, pengaliran makanan dari pembuluh darah ibu ke pembuluh darah janin melalui plasenta. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna.5
Makanan bergizi harus dipersiapkan sebelum seorang ibu berencana hamil. Sehingga pada saat hamil, badan sudah terkondisikan dengan sangat baik untuk pertumbuhan janin. Minggu-minggu pertama kehamilan adalah masa di mana organ tubuh yang penting terbentuk. Kekurangan gizi pada saat ini dapat menimbulkan kelainan pada bayi atau bahkan kelahiran prematur. Karena itu, gizi seimbang penting untuk pertumbuhan janin.5

2.2 Peningkatan Berat Badan pada Kehamilan
            Peningkatan berat badan yang ideal pada ibu hamil tergantung pada beberapa faktor. Yang paling penting dari ini adalah IMT sebelum hamil dan jenis kehamilan (primigravida atau multigravida). Penting untuk dicatat bahwa kenaikan berat badan untuk IMT normal adalah 11 hingga 16 kg, tetapi berat badan yang optimal untuk seorang remaja yang kurus dengan kehamilan tunggal mendekati 18,2 kg. sedangkan bagi wanita yang gemuk, tidak boleh lebih dari 6,8 kg. Berat badan yang optimal bagi perempuan dengan hamil kembar biasanya lebih besar dari 18,2 kg. Selama trimester pertama dan kedua, sebagian besar berat yang diperoleh mencerminkan perubahan ibu, terutama pada peningkatan total cairan tubuh, sementara pertumbuhan janin paling cepat pada trimester terakhir.  Peningkatan berat badan yang buruk merefleksikan  bahwa pasien tidak memperluas volume intravaskular mereka. Hal ini terkait dengan berat badan lahir rendah dan komplikasi yang lebih besar pada kehamilan.6
Sebagai standard kenaikan berat badan pada ibu hamil menurut Committee on Nutritional (1990) adalah sekitar 7 kg sampai 18 kg; yaitu:7
a.       Untuk ibu gemuk (BMI > 26-29) pertambahan berat badan  + 7 kg -11,5 kg
b.      Untuk ibu normal (BMI 19,8-26) pertambahan berat badan  + 11,5 kg – 16 kg
c.       Untuk ibu kurus (BMI < 19,8) pertambahan berat badan  + 12,5 kg – 18 kg
           
Peningkatan berat badan optimal tergantung pada tinggi badan ibu hamil, struktur tulang dan status gizi sebelum hamil. Pola peningkatan berat badan juga penting, pola ideal dari peningkatan berat badan selama hamil adalah adanya peningkatan 1 – 2 kg selama trimester pertama, diikuti dengan peningkatan rata 0,4 kg per minggu selama akhir dua semester. Selama trimester kedua umumnya peningkatan berat badan menandakan peningkatan volume darah, pembesaran payudara, uterus (rahim) dan berhubungan dengan jaringan dan cairan serta simpanan lemak ibu hamil.8
       Peningkatan berat badan yang tidak sesuai (< 1 kg per bulan) selama trimester dua dan tiga atau peningkatan berat badan yang berlebihan (> 3 kg per bulan) harus dievaluasi dan perlu mendapatkan konseling nutrisi. Kekurangan atau kelebihan nutrisi dapat menyebabkan kelainan yang tidak diinginkan pada ibu hamil. Kekurangan makanan dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematour, insersia uteri, hemorgia postpartum, sepsis puerperalis, dan sebagainya. Sedangkan makan secara berlebihan karena ibu hamil sering salah mengerti dengan arti makan untuk “dua orang” dapat menyebabkan bayi terlalu besar.8
Perempuan harus diinstruksikan untuk tidak diet selama kehamilan. Peningkatan berat badan yang signifikan tidak akan terjadi sampai pertengahan trimester kedua. Pasien dapat diyakinkan bahwa hal ini adalah normal.6 Pada kehamilan aterm, peningkatan berat badan ibu tersebut akan didistribusikan seperti yang terlihat pada gambar 1. Peningkatan berat badan yang tidak adekuat akan berakibat buruk pada pertumbuhan janin sehingga terjadinya PJT dan plasenta yang kecil. Begitu juga pada peningkatan berat badan yang terlalu berlebihan, terutama pada akhir usia kehamilan akan meningkatkan resiko hipertensi dalam kehamilan. Selain itu hal ini juga akan mengakibatkan makrosomia pada janin.9

Gambar 1. Komponen Peningkatan Berat Badan pada Kehamilan Normal9
2.3 Kebutuhan Nutrisi Ibu Hamil
            Ukuran penting diet pada kehamilan adalah dari asupan kalori, kualitas diet, dan frekuensi makan. Hal ini akan mempengaruhi pasien dan pertumbuhan janin. Diet yang dipilih haruslah diet seimbang dengan makanan yang mengandung seluruh jenis kelompok makanan dasar. Spesifikasi dari diet akan bervariasi sesuai dengan keinginan pasien, pola makan keluarga, dan latar belakang budaya dan etnis.6
Peningkatan kebutuhan gizi selama kehamilan mencerminkan kebutuhan janin untuk tumbuh, serta untuk kebutuhan fisiologis ibu. Untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan energi secara keseluruhan, rata-rata wanita harus mengkonsumsi tambahan 300 kkal per hari di luar kebutuhan dasarnya. Kalori harian yang tepat dari diet yang diperlukan untuk memasok kebutuhan energi dan mencapai berat badan yang tepat dapat diperkirakan dengan mengalikan berat badan ideal pasien (dalam kilogram) dengan 35 kkal dan menambahkan 300 kkal dari total.6
Beberapa nutrisi penting yang diperlukan ibu hamil diantaranya adalah sumber kalori (karbohidrat dan lemak), protein, asam folat, vitamin B12, zat besi, zat seng, kalsium, vitamin C, vitamin A, vitamin D, vitamin B6, vitamin E. Sedangkan nutrisi yang dibutuhkan bagi janin dalam kandungan diantaranya DHA, gangliosida (GA), asam folat, zat besi dan kolin.5
Kebutuhan nutrisi pada kehamilan disesuaikan dengan usia kehamilan, mulai dari trimester pertama hingga trimester ketiga. Hal ini disebabkan oleh banyaknya keluhan ibu hamil yang mempengaruhi keinginannya untuk makan.8
2.3.1 Kebutuhan Nutrisi pada Trimester Pertama
Pada kehamilan trimester pertama umur kehamilan 0-3 bulan umumnya timbul keluhan-keluhan seperti rasa mual, ingin muntah, pusing-pusing, selera makan berkurang sehingga timbul kelemahan dan malas beraktivitas.8
            Pada saat ini belum diperlukan tambahan kalori, protein, mineral serta vitamin yang berarti karena janin belum tumbuh dengan pesat dan kebutuhan gizi dapat disamakan dengan keadaan sebelum hamil, tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa ibu hamil harus tetap makan agar tidak terjadi gangguan pencernaan, bentuk makanan biasa, dan untuk menghindari rasa mual dan muntah posi makanan kecil akan tetapi frekuensi makan sering. Energi serta gizi pada saat seperti ini hanya diperlukan untuk memelihara kesehatan serta vitalisnya, disamping tentunya mensuplai kebutuhan janin yang sedang diproses. Agar kecukupan zat-zat gizi terpenuhi dapat diperhatikan hal-hal seperti berikut:8
a.       Makanan hendaknya dipilih yang mudah dicerna. Buah-buahan segar dan sayuran hijau biasanya dapat mengurangi rasa mual.
b.      Posi makanan sedikit, tetapi dengan frekuensi sering. Bila kurang selera makan nasi, dapat diganti dengan kentang, macaroni, mie atau jajanan lain yang bergizi.

2.3.2 Kebutuhan Nutrisi pada Trimester Kedua
Pada trimester kedua mulai dibutuhkan tambahan kalori untuk pertumbuhan serta perkembangan janin serta untuk mempertahankan kesehatan ibu. Pada saat ini muntah sudah berkurang atau tidak ada, nafsu makan bertambah, perkembangan janin sangat pesat bukan saja tubuhnya tetapi juga susunan saraf otak (kurang lebih 90%). Oleh karena pertumbuhan janin yang pesat di mana jaringan otak menjadi perhatian utama maka ibu hamil memerlukan protein dan zat gizi lain seperti galaktosa yang ada pada susu sehingga dianjurkan untuk minum susu 400 cc. Yang perlu diperhatikan pada trimester kedua ini adalah:8
a.       Hendaknya lebih banyak memakan bahan makanan sumber protein (zat pembangun), agar janin mengalami pertumbuhan yang baik. Bahan makanan sumber protein adalah ikan, daging, telur, kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti tempe, tahu, dan lain-lain.
b.      Selain zat pembangun, zat-zat pengatur juga diperlukan. Vitamin dan mineral merupakan zat pengatur yang banyak terdapat pada buah dan sayuran.
c.       Perlu diperhatikan, bila ibu mengalami bengkak-bengkak pada kaki, hendaknya konsumsi garam dan makanan perlu dikurangi. Bahan makanan yang banyak mengandung garam antara lain mie instan, margarine, mentega, kecap, dan lain-lain. Untuk itu bahan makanan tersebut hendaknya dibatasi.

2.3.3 Kebutuhan Nutrisi pada Trimester Ketiga
            Trimester ketiga, pada saat ini nafsu makan sudah baik sekali cenderung untuk merasa lapar terus menerus sehingga perlu diperhatikan agar tidak terjadi kegemukan. Pada masa ini diperlukan makanan dengan nilai biologis yang tinggi serta memadai untuk mencukupi segala yang dibutuhkan. Secara garis besar makanan pada trimester ketiga sama dengan makanan pada trimester kedua, tetapi hendaknya jangan terlalu banyak, agar ibu terhindar dari kegemukan. Keperluan zat gizi tambahan yang diperlukan pada kehamilan, adalah:8
  1. Kalori :
2200
+  285 kal
  1. Protein :
48
+  12 gr
  1. Kalsium :
500
+  400 mg
  1. Besi :
26
+  20 mg
  1. Vitamin A :
500
+  200 RE
  1. Thiamin :
1
+  0.2 mg
  1. Riboflavin:
1.2
+  0.2 mg
  1. Niacin :
9
+  1 mg
  1. Vitamin C :
60
+  10 mg
  1. Vitamin D :
5
+  10 ug
2.4 Zat-Zat Nutrisi pada Kehamilan
a.      Sumber Energi
Sumber energi utama bagi ibu hamil adalah kabohidrat dan lemak. Sumber karbohidrat antara lain nasi, roti, sereal dan gandum. Agar kebutuhan karbohidrat terpenuhi disarankan makan 3 porsi karbohidrat setiap hari. Lemak juga menghasilkan energi, dan menghemat protein untuk dimanfaatkan dalam fungsi-fungsi pertumbuhan. Lemak digunakan untuk pembentukan materi membran sel dan pembentukan hormon, pembentukan jaringan lemak, disamping itu lemak membantu tubuh untuk menyerap nutrisi. Namun demikian dalam kondisi hamil asupan lemak juga harus dibatasi karena kandungan kalorinya yang tinggi.10       
b.      Protein
            Sama halnya dengan energi, selama kehamilan kebutuhan protein juga meningkat, bahkan sampai 68 % dari sebelum kehamilan. Hal ini dikarenakan protein diperlukan untuk pertumbuhan jaringan pada janin. Jumlah protein yang harus tersedia sampai akhir kehamilan diperkirakan sebanyak 925 g, yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta, serta janin. Dianjurkan penambahan protein sebanyak 12 g/hari selama kehamilan. Dengan demikian dalam satu hari asupan protein dapat mencapai 75 – 100 g (sekitar 12 % dari jumlah total kalori).10
c.       Asam Folat
Asam folat termasuk vitamin B kompleks, yakni vitamin B9. Kebutuhan asam folat pada ibu hamil dan usia subur sebanyak 400 mikrogram perhari atau setara dengan 2 gelas susu. Folat didapatkan dari sayuran berwarna hijau (seperti bayam, asparagus), jeruk, buncis, kacang-kacangan dan roti gandum. Selain itu folat juga dapat didapatkan dari suplementasi asam folat. Dalam tubuh, asam folat berfungsi sebagai ko-enzym dalam sintesa asam amino dan asam nukleat. Folat juga diperlukan pada pembentukan dan pematangan sel darah merah dan sel darah putih di sumsum tulang.10
Selain itu, folat juga berperan sebagai pembawa karbon tunggal pada pembentukan heme pada molekul hemoglobin. Kekurangan asam folat menyebakan gangguan metabolisme DNA. Akibatnya terjadi perubahan dalam morfologi inti sel, terutama pada sel-sel yang cepat membelah seperti erytrosit, leukosit, sel epitel lambung dan usus, epitel vagina dan servik uterus. Pada ibu hamil, folat memegang peranan penting dalam perkembangan embrio, diantaranya adalah pembentukan neural tube pada bulan pertama kehamilan. Neural tube inilah sebagai awal pembentukan otak dan sumsum tulang belakang.10
Di Jakarta, tiga dari lima atau 60 % wanita usia subur memiliki kadar folat kurang dari kadar folat ideal. Kekurangan folat dapat terjadi karena intake makanan berkurang, gangguan absorbsi pada pencernaan, alkoholis, pengaruh obat, atau kebutuhan internal yang meningkat karena pertumbuhan sel yang cepat misalnya pada kehamilan, ibu menyusui, anemia hemolitik dan leukimia. Kekurangan asam folat pada ibu hamil menyebabkan meningkatnya resiko anemia, keguguran,neural tube defect. Pada janin kekurangan asam folat akan meningkatkan resiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau lahir dengan cacat bawaan, kecacatan pada otak dan sumsum tulang belakang, down’s syndrome, bibir sumbing, kelainan pembuluh darah, dan lepasnya plasenta sebelum waktunya.10
Telah dilakukan penelitian randomized controlled trials  pada suplementasi asam folat untuk pencegahan neural tube defects (NTDs) primer maupun sekunder, dilaporkan bahwa dosis tinggi asam folat (4 mg per hari) dapat menurunkan resiko sebanyak 70%. Rekomendasi CDC (Centers for Disease Control and Prevention) pada wanita dengan riwayat kehamilan NTDs ini adalah konsumsi asam folat sebanyak 4 mg per hari yang dimulai paling sedikit satu bulan sebelum komsepsi dan diteruskan selama trimester pertama. Sedangkan, pada wanita tanpa riwayat kehamilan NTDs sebelumnya, suplementasi asam folat yakni sebanyak 0.4 mg (400 μg) per hari akan mencegah sedikitnya 50% kejadian NTDs pada janin jika dikonsumsi sebelum konsepsi dan  dilanjutkan hingga trimester pertama.9
d.      Zat Besi
Total kebutuhan besi selama kehamilan sekitar 1 gram. Pada menstruasi bulanan, kebanyakan wanita memiliki cadangan besi yang kurang selama tahun-tahun reproduksi mereka.6 Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil pada umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya sedikit memberi zat besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi normal. Zat besi dibutuhkan untuk pembetukan hemoglobin, sedangkan selama kehamilan volume darah akan meningkat akibat perubahan pada tubuh ibu dan pasokan darah bayi. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan dan hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak, kematian janin dalam kandungan, abortus, cacat bawaan, lahir dengan berat badan rendah dan anemia pada bayi.10
Sehubungan dengan itu, suplementasi dengan 30 mg besi elemental dianjurkan pada trimester kedua dan ketiga untuk mencegah anemia. Tablet besi diminum per hari diantara waktu makan atau sebelum tidur. Sedangkan, pada wanita dengan anemia defisiensi besi membutuhkan 60 sampai 120 mg besi elemental per hari. Seng tambahan (15 mg) dan tembaga (2 mg) kemudian dibutuhkan, hal ini diakibatkan oleh penyerapan ion ini akan terhambat pada pemberian besi.6
e.       Kalsium
Janin mengumpulkan kalsium dari ibunya sekitar 25 sampai 30 mg sehari. Paling banyak ketika trimester ketiga kehamilan. Ibu hamil dan bayi membutuhkan kalsium untuk menguatkan tulang dan gigi. Selain itu kalsium juga digunakan untuk membantu pembuluh darah berkontraksi dan berdilatasi. Kalsium juga diperlukan untuk mengantarkan sinyal syaraf, kontraksi otot dan sekresi hormon. Jika kebutuhan kalsium tidak tercukupi dari makanan, kalsium yang dibutuhkan janin akan diambil dari ibu. Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah sekitar 1000 mg perhari. Sumber kalsium dari makanan diantaranya product susu seperti susu, yoghurt. Ikan teri juga merupakan sumber kalsium yang baik.10 Suplemen kalsium tidak diperlukan pada wanita dengan diet yang mencakup makanan yang mengandung produk susu yang memadai.6
f.       Zink
Zink merupakan trace mineral. Kekurangan zink bisa mengakibatkan teratogenik pada manusia, meskipun hal ini belum meyakinkan. Kadar zink dalam cairan ketuban berkorelasi dengan aktivitas antimikroba, sehingga berperan dalam melindungi infeksi intrauterin. Asupan makanan rendah seng telah dikaitkan dengan PJT. RDA untuk seng selama kehamilan meningkat dari 15 menjadi 20 mg per hari.6

2.5 Zat-Zat Nutrisi yang tidak dianjurkan pada Kehamilan
            Tidak semua vitamin bisa diberikan pada ibu hamil. Dosis tinggi vitamin merupakan penyalahgunaan nutrisi yang dapat dikategorikan sebagai jenis mode manipulasi diet. Vitamin yang larut dalam air seperti vitamin C dapat dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan karena mudah diekskresikan dalam urin. Namun, tidak demikian pada vitamin yang larut lemak seperti vitamin A. Terdapat hubungan antara dosis tinggi vitamin A dengan cacat lahir bawaan. Meskipun dosis teratogenik minimum pada manusia belum diidentifikasi, namun sedikitnya dosis vitamin A 10.000 IU per hari dapat mengakibatkan hal tersebut. Adapun yang aman dikonsumsi adalah beta-karoten yang merupakan provitamin vitamin A tetapi tidak menghasilkan toksisitas yang sama dengan vitamin A.6
Kafein terkandung dalam berbagai bahan makanan seperti kopi, teh, cokelat, dan minuman cola. Sebuah zat alami, ini adalah yang paling banyak digunakan Satu-satunya bukti untuk efek teratogenik kafein hanya berasal dari studi hewan menggunakan dosis yang inkompatibel dengan yang dikonsumsi manusi. Beberapa studi manusia yang besar telah gagal untuk menunjukkan bahwa kafein memiliki efek merusak pada janin, bila tertelan dalam jumlah rendah. Namun demikian, konsumsi kafein pada kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran. Adapun dosis yang membahayakan adalah setara dengan tiga cangkir kopi. Efek maternal kafein termasuk insomnia, gangguan pencernaan asam, refluks, dan frekuensi kencing.6


BAB 3
KESIMPULAN
           
·         Makanan bergizi harus dipersiapkan sebelum seorang ibu berencana hamil. Sehingga pada saat hamil, badan ibu sudah terkondisikan dengan sangat baik untuk pertumbuhan janin. 5 
·         Peningkatan berat badan yang tidak sesuai (< 1 kg per bulan) selama trimester dua dan tiga atau peningkatan berat badan yang berlebihan (> 3 kg per bulan) harus dievaluasi dan perlu mendapatkan konseling nutrisi. Kekurangan atau kelebihan nutrisi dapat menyebabkan kelainan yang tidak diinginkan pada ibu hamil.
·         Sebagai standard kenaikan berat badan pada ibu hamil menurut Committee on Nutritional (1990) adalah sekitar 7 kg sampai 18 kg; yaitu:7
1.      Untuk ibu gemuk (BMI > 26-29) pertambahan berat badan  + 7 kg -11,5 kg
2.      Untuk ibu normal (BMI 19,8-26) pertambahan berat badan  + 11,5 kg – 16 kg
3.      Untuk ibu kurus (BMI < 19,8) pertambahan berat badan  + 12,5 kg – 18 kg
·         Beberapa nutrisi penting yang diperlukan ibu hamil diantaranya adalah sumber kalori (karbohidrat dan lemak), protein, asam folat, vitamin B12, zat besi, zat seng, kalsium, vitamin C, vitamin D, vitamin B6, vitamin E. Sedangkan nutrisi yang dibutuhkan bagi janin dalam kandungan diantaranya DHA, gangliosida (GA), asam folat, zat besi dan kolin.5
·         Kebutuhan nutrisi pada kehamilan disesuaikan dengan usia kehamilan, mulai dari trimester pertama hingga trimester ketiga. Hal ini disebabkan oleh banyaknya keluhan ibu hamil yang mempengaruhi keinginannya untuk makan.8
DAFTAR PUSTAKA
1.         Ministry of Health. 2006. Food and Nutrition Guidelines for Healthy Pregnant and Breastfeeding Women: A background paper. Wellington: Ministry of Health. Available at https://www.health.govt.nz/system/files/documents/publications/food-and-nutrition-guidelines-preg-and-bfeed.pdf  [Diakses 26 Februari 2015]
2.         Odyssey, Health. 2010.  Impact of Maternal Nutrition on Fetal Development - PRENATAL NUTRITION. Mednet Medical Education Network. Available at http://www.mednet.ca/en/report/impact-of-maternal-nutrition-on-fetal-developmen.html  [Diakses 26 Februari 2015]
3.         J Nutr. 2003 The risk of maternal nutritional depletion and poor outcomes increases in early or closely spaced pregnancies.NCBI, London. Available at http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12730491  [Diakses 26 Februari 2015]
4.         Kathleen , Abu-Saad., Fraser,  Drora.2010.  Maternal Nutrition and Birth Outcomes. Oxford Journal, London. Available at http://epirev.oxfordjournals.org/content/32/1/5.full [Diakses 26 Februari 2015]
5.         Pramita. 2010. Artikel: Kebutuhan Gizi Pada Ibu Hamil Dan Menyusui. Jakarta: Pramita Lab
6.         James, et al. 2003. Danforth’s Obstetrics and Gynecology, 9th Ed. Lippincott Williams & Wilkins Publishers. P 18-19
7.         Committee on Nutritional. 1990. Nutrition During Lactation. National Washington DC: Academy Press
8.         Simanjuntak, David., Sudaryati, Etti. 2005. Artikel: Gizi Pada Ibu Hamil dan Menyusui. Medan: Repository USU
9.         Pernoll, Martin. 2001. Benson & Pernoll’s Handbook of Obstetrics and Gynecology, 10th Ed. McGraw-Hill. p 101

10.     Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 1998. Risalah Widyakarya Pangan dan Gizi VI. LIPI

1 komentar: